Sontoloyo! Kuli Bangunan ini Temukan Uang 400 Juta Rupiah, Saat Dikembalikan Malah Dihina, Akhirnya | dina

Sontoloyo! Kuli Bangunan ini Temukan Uang 400 Juta Rupiah, Saat Dikembalikan Malah Dihina, Akhirnya

Kode Iklan 336x280
HPK taruh disini

Di dunia yang orang-orangnya semakin dingin dan cuek ini, satu hal kecil yang menghangatkan saja sudah akan membuat kita terharu bukan kepalang. Dan kadang hal-hal kecil yang hangat itu bisa datang dari sosok yang sering kita remehkan, seperti tukang bersih-bersih, tukang pemungut sampah, kuli bangunan, dan lain sebagainya.

Setiap orang pasti berjuang untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, sama seperti Mustafa yang pekerjaan sehari-harinya seorang kuli bangunan. Mustafa tidak tamat SD, sejak kecil ia sudah mulai bekerja mencari nafkah.


Ia tidak punya keahlian apa-apa dan tidak punya ijazah pendidikan tinggi, mau tidak mau, Mustafa hanya bisa menjadi kuli bangunan. Demi menghasilkan pendapatan yang lebih banyak, Mustafa bekerja sangat keras tanpa istirahat satu hari pun. Baginya, istirahat satu hari berarti rugi uang satu hari.


Suatu hari, saat rekan kerjanya sudah beranjak pulang ke rumah, seperti biasa Mustafa lembur mengerjakan proyek bangunan. Upah untuk lembur lebih banyak dari pada upah saat jam kerja biasa, jadi Mustafa rela untuk pulang lebih larut. Setelah targetnya diselesaikan, Mustafa pun pulang ke asrama.

Tak disangka saat sedang berjalan menuju asrama, Mustafa melihat sebuah tas hitam tergeletak di jalan. Mustafa penasaran lalu membukanya, ia terperanjat kaget karena didalamnya terdapat bergepok-gepok uang lembaran kertas. Jumlahnya pasti tidak sedikit.


Mustafa menoleh ke kanan dan kiri, mencari sang pemilik yang mungkin menjatuhkannya tapi tak ada satupun orang di sana. Dalam hati ia berpikir, "Ingat Mus...Tidak boleh memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan." Oleh karena itu, Mustafa membawa tas hitam itu ke kantor polisi terdekat.

Begitu diperiksa, ternyata didalam tas itu ada 200.000 RMB (senilai 438 juta rupiah)!

Selain uang, ternyata di dalamnya ada secarik kertas memo bertuliskan nomor telepon. Polisi pun segera menelepon nomor telepon yang tertera dan berhasil menghubunginya. Ternyata uang di dalam kantong plastik ini milik bos Mustafa. Bosnya menyerahkan sejumlah uang ini ke sekretaris keuangan untuk membayar biaya bahan bangunan, namun sekretaris yang bernama Mira malah tidak hati-hati menjatuhkannya.


Dengan geram, bos membawa Mira ke kantor polisi untuk mengambil kembali uang itu. Mira memeriksa isi uang itu dan mengatakan kepada bos bahwa tidak ada yang hilang. Setelah mengambil uang itu dan menandatangani surat kepolisian, Mira pun berbalik badan dan berniat pergi.

Bos pun bertanya kepada Mira, "Apa ada yang kamu lupakan??"

Mira dengan heran berkata, "Tidak ada! Lupakan apa bos??"

"Si Mustafa ini yang menemukan uang ini! Kamu nggak berterima kasih padanya?!"


Perkataan Mira kemudian membuat bosnya terbelalak tidak percaya. "Bos, dia ini hanyalah seorang kuli bangunan. Untuk apa berterima kasih padanya?"

Mendengar perkataan Mira, Bos sangat geram. Bisa-bisanya seorang yang berpendidikan tinggi mengatakan kata-kata itu dan meremehkan kuli bangunan.

Perbuatan Mira benar-benar keterlaluan. Semua orang itu sama kodratnya, kenapa harus membeda-bedakan orang dari profesinya? Apalagi si Mustafa ini telah mengembalikan uang dengan jumlah besar ini, tanpa mengambil sepeserpun. Sudah seharusnya Mira mengucapkan terima kasih kepadanya, atau bahkan memberikan hadiah atas tindakan Mustafa.

"Kamu begitu meremehkan buruh bangunan. Saya rasa kamu tidak cocok bekerja dengan saya. Mulai sekarang kamu dipecat." Bos merasa, mempekerjakan karyawan dengan pemikiran merendahkan seperti ini tidak ada gunanya.

"Saya dulunya juga mulai dari nol. Saya dulu juga kuli bangunan." kata bos lagi dan membuat Mira syok tak bisa berkata apa-apa. Bos kemudian bersalaman dengan Mustafa, mengucapkan terima kasih dan memberikannya uang 1000 RMB ( 2 juta rupiah) sebagai imbalan.

Perbuatan bos dari Mustafa sungguh patut diacungi jempol. Tak peduli siapapun, apapun pekerjaannya dan pendidikannya, sudah sepatutnya kita harus saling menghormati dan menghargai. Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya, dan tidak ada yang lebih rendah derajatnya. Semua orang itu sama, terbuat dari debu tanah, dan pada akhirnya akan kembali menjadi debu tanah.


close
==[ Klik disini 2X ] [ Close ]==