HPK taruh disini
Sebenarnya laga timnas U-23 Indonesia vs timnas U-23 Uni Emirat Arab berlangsung secara sengit. Partai tersebut harus ditentukan lewat babak adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 2-2 di waktu normal.
Wasit Shaun Robert Evans yang memimpin jalannya pertandingan tersebut mendapat sorotan selepas pertandingan. Pasalnya, pengadil asal Australia itu dinilai membuat keputusan-keputusan yang kontroversial.
Seperti yang dilansir dari laman bolasport.com (25/08/2018) Berikut 5 dosa keputusan wasit Evans yang merugikan Timnas Indonesia
1. Penalti kedua UEA minim kontak
Timnas UEA mendapat hadiah tendangan penalti kedua. Kapten timnas Indonesia, Hansamu Yama, dinilai melakukan pelanggaran kepada Shaheen Aldarniki di kotak terlarang. Namun dalam tayangan ulang, kontak yang terjadi antara Hansamu dengan Shaheen tak cukup vital, tapi tetap sebuah pelanggaran.
2. Kartu kuning kepada Hansamu Yama
Hansamu Yama mendapat kartu kuning dari Shaun Evans pada menit ke-33. Akan tetapi, kartu kuning untuk kapten timnas Indonesia itu didapat hanya karena melakukan protes. Namun, kita juga harus ingat bahwa protes berlebihan bisa menyebabkan kartu kuning bahakn di usir dari lapangan.
3. Kartu Kuning untuk UEA
Seperti yang kita tahu, Evans mengeluarkan kartu kuning agak terlambat untuk kiper UEA dan hanya mengahadiahi kartu kuning kepada pemain bertahan UEA pada saaat melanggar Ilham Udin. Dilansir dari laman striker.id (25/08/2018) Evans mengaku dirinya telah mempertimbangkan semua keputusan yang akan dia berikan, ada saat yang tepat dimana waktunya mengeluarkan peringatan ringan atau memeberikan kartu.
4. Pengusiran Bima Sakti
Asisten pelatih timnas Indonesia, Bima Sakti, diusir oleh Evans pada akhir babak kedua. Penyebabnya, Bima dinilai berlebihan dalam merayakan gol Stefano Lilipaly. Bima membanting botol minum sebagai ekspresi kegembiraan setelah Lilipaly mencetak gol penyeimbang keadaan. Melempar botol pada saat pertandingan, berarti tak mencerminkan sikap yang baik dilapangan, memang pantas bila dirinya dihadiahi kartu merah.
AKhir kata:
Apa daya nasi sudah menjadi bubur, kita bangsa Indonesia hanya bisa meluapkan kekeselan kita pada sosok wasit yang dianggap telah berbuat dosa, karena telah menyakiti hati seluruh masyarakat Indonesia lewat keputusannya yang dianggap menguntungkan tim lawan.
Sumber

